Maksud hati menghabiskan waktu dengan berfoto ria di sungai, namun justru terkepung air bah di Sungai Pandan, Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Peristiwa ini dialami sembilan orang asal Surabaya dan Kabupaten Mojokerto, Minggu (5/3/2017) sore.
Sembilan orang tersebut yakni, tujuh orang dalam satu keluarga asal Kendangsari, Surabaya dan dua orang asal Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.
Reza Ardiansyah seorang korban, menuturkan saat itu ia bersama enam keluarganya sengaja datang ke Kecamatan Pacet untuk menghabiskan waktu libur akhir pekan.
Tujuan utamanya adalah Pacet Mini Park. Namun karena di hari itu lokasi wisata sangat ramai, keluarga ini pun mengurungkan niat dan mencari alternatif wisata lainnya.
Di tengah perjalanan, keluarga Reza memutuskan untuk berhenti di sungai Pandan di Dusun Tanjung Anom Desa Tanjung Kenongo.
Bukan tanpa alasan mereka berhenti di lokasi ini, melainkan karena pemandangan yang disuguhkan disepanjang sungai sangat menakjubkan.
Sungai yang dipenuhi bebatuan dan masih asri ini pun menarik perhatian mereka.
Di tengah keasyikan mengabiskan waktu berfoto-foto di sungai, sekitar dua puluh menit kemudian tiba-tiba debit air meninggi. Karena banyaknya bebatuan di tengah, membuat air mengalir di pinggir sungai terlebih dahulu.
Hal itulah yang membuat keluarga ini terkepung dan tidak bisa bergerak.
Sontak saja, karena panik mereka pun berteriak meminta pertolongan. Beruntung, ada warga yang saat itu sedang mengisi air di dekat sungai mendengar teriakan mereka.
Dengan cepat, warga pun memeriksa asal suara tersebut, dan sembilan orang terjebak di tengah luapan air sungai yang mengganas.
Teriakan dan tangisan terdengar kencang dari mulut para perempuan ini. Bahkan anak-anak pun tak henti-hentinya menangis dan berpegangan tangan dengan kuat.
Air yang semakin tinggi, membuat mereka mencari tempat yang lebih tinggi, yakni dengan naik di atasi bebatuan besar.
Ada juga berpegangan dahan pepohonan yang menjuntai demi tidak terbawa arus.
Butuh satu setengah jam warga mengevakuasi secara manual kesembilan orang ini.
Untuk mengantisipasi korban hanyut karena diterjang arus yang begitu kuat, beberapa warga sengaja menghadang tepat di bawah jembatan yang tidak jauh dari lokasi kejadian.
Dengan menggunakan tali, satu persatu dapat dievakuasi.
"Niatnya ke Pacet Mini Park, tapi karena ramai kita cari wisata lain. Waktu di jalan lihat sungai, pemandangannya bagus, dan sungainya masih dangkal, kita foto-foto disini. Baru dua puluh menitan, tiba-tiba air langsung deras. Kita kejebak ditengah," katanya usai dievakuasi, Minggu (5/3/2017).
Kepala Dusun Tanjung Anom Basori menambhakan, kejadian ini merupakan kali pertama sejak musim penghujan. Sebelumnya debit air terpantau normal dan tidak pernah meninggi.
"Ini pertama kali, tadi warga yang juga bantu evakuasi menggunakan tali tampar," katanya.
Teriakan dan tangisan terdengar kencang dari mulut para perempuan ini. Bahkan anak-anak pun tak henti-hentinya menangis dan berpegangan tangan dengan kuat.
Air yang semakin tinggi, membuat mereka mencari tempat yang lebih tinggi, yakni dengan naik di atasi bebatuan besar.
Ada juga berpegangan dahan pepohonan yang menjuntai demi tidak terbawa arus.
Butuh satu setengah jam warga mengevakuasi secara manual kesembilan orang ini.
Untuk mengantisipasi korban hanyut karena diterjang arus yang begitu kuat, beberapa warga sengaja menghadang tepat di bawah jembatan yang tidak jauh dari lokasi kejadian.
Dengan menggunakan tali, satu persatu dapat dievakuasi.
"Niatnya ke Pacet Mini Park, tapi karena ramai kita cari wisata lain. Waktu di jalan lihat sungai, pemandangannya bagus, dan sungainya masih dangkal, kita foto-foto disini. Baru dua puluh menitan, tiba-tiba air langsung deras. Kita kejebak ditengah," katanya usai dievakuasi, Minggu (5/3/2017).
Kepala Dusun Tanjung Anom Basori menambhakan, kejadian ini merupakan kali pertama sejak musim penghujan. Sebelumnya debit air terpantau normal dan tidak pernah meninggi.
"Ini pertama kali, tadi warga yang juga bantu evakuasi menggunakan tali tampar," katanya.

Komentar
Posting Komentar