Tradisi Rebutan Ancak Potret Ngalap Berkah di acara Sedekah bumi/ Ruwah Dusun Urung-Urung Desa Jatijejer Trawas
Pagi tadi (04/05) sekitar pukul 10.00 Wib kirab ancak yg berjumlah 19 buah ini sdh mulai jalan keliling kampung, bahkan begitu antusiasnya dan seakan tidak mengenal lelah, rute yg seharusnya sdh selesai di perpanjang lagi lebih jauh menjangkau pelosok dusun
Dalam bbrp postingan sy sering menyebut ancak, apa sih ancak itu?? Ancak adalah tempat barang/ makanan yg terbuat dari kayu/ bambu yg biasanya di buat pikulan atau di dorong menggunakan roda
19 ancak di buat penuh kreativitas dan seni oleh masing-masing RT ada yg berbentuk burung Garuda, naga bahkan bentuk kubah masjid mengikuti barang atau makanan yg di pajang di ancak
Setelah berkeliling dusun ancak di bawa ke balai desa jatijejer, dan ini lah saat yg menarik perhatian sy krn ini berbeda dengan ruwah dusun lainnya knapa??
Belum semua ancak terkumpul di balai desa ancak sdh jadi rebutan masyarakat yg melihat prosesi ruwah ini dan hebatnya yg rebutan ancak adalah org luar dusun Urung-Urung, ada semacam larangan bagi warga Urung-Urung ikut berebut menggambarkan bentuk sedekah itu untuk org lain
Dalam sekejap ancak2 tsb sdh habis ludes hanya tertinggal rangka ancak bahkan tadi sempat terjadi kericuhan namun bersyukur bisa diatasi tim pengamanan dari kepolisian yg dibantu oleh relawan Macanputih Trawas
Hal yg menarik berikutnya adalah sejarah cikal bakal dusun Urung-Urung itu sendiri karena sampai sekarang belum diketahui siapa yg membabat alas dusun ini, tapi peninggalan/ prasasti nya sampai saat ini masih dirasakan manfaat yg sangat besar bagi masyarakat berupa gorong-gorong sepanjang 50 m yg berada di tebing curam yg berfungsi sebagai saluran air yg menghubung wilayah yg sangat sulit dijangkau krn terhalang tebing.
Gorong-gorong inilah yg kemudian disebut orang dulu dengan Urung-Urung menjadi nama dusun ini.
Mbah2 dusun Urung-Urung bukan hanya sakti secara keilmuan tapi juga mempunyai kemampuan secara teknologi pun sdh bisa mencari solusi atas masalah pengairan dari sumber air menuju persawahan dan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat di kala itu
Tidak berlebihan jika sy meminta kepada kepala desa dan sesepuh desa untuk mengurut silsilah siapa yg membabat alas dusun Urung-Urung atau desa Jatijejer ini
Semoga pada peringatan ruwah dusun yg di agendakan setiap 2 tahunan ini kedepan sdh diketahui nama Mbah dusun Urung-Urung
Harapan dan doa untuk masyarakat dusun Urung-Urung semoga selalu diberikan Rahmat, keselamatan dan barokah sebagaimana doa yg di tujukan pada leluhur yg sangat berjasa bagi masyarakat di masa kini
Pagi tadi (04/05) sekitar pukul 10.00 Wib kirab ancak yg berjumlah 19 buah ini sdh mulai jalan keliling kampung, bahkan begitu antusiasnya dan seakan tidak mengenal lelah, rute yg seharusnya sdh selesai di perpanjang lagi lebih jauh menjangkau pelosok dusun
Dalam bbrp postingan sy sering menyebut ancak, apa sih ancak itu?? Ancak adalah tempat barang/ makanan yg terbuat dari kayu/ bambu yg biasanya di buat pikulan atau di dorong menggunakan roda
19 ancak di buat penuh kreativitas dan seni oleh masing-masing RT ada yg berbentuk burung Garuda, naga bahkan bentuk kubah masjid mengikuti barang atau makanan yg di pajang di ancak
Setelah berkeliling dusun ancak di bawa ke balai desa jatijejer, dan ini lah saat yg menarik perhatian sy krn ini berbeda dengan ruwah dusun lainnya knapa??
Belum semua ancak terkumpul di balai desa ancak sdh jadi rebutan masyarakat yg melihat prosesi ruwah ini dan hebatnya yg rebutan ancak adalah org luar dusun Urung-Urung, ada semacam larangan bagi warga Urung-Urung ikut berebut menggambarkan bentuk sedekah itu untuk org lain
Dalam sekejap ancak2 tsb sdh habis ludes hanya tertinggal rangka ancak bahkan tadi sempat terjadi kericuhan namun bersyukur bisa diatasi tim pengamanan dari kepolisian yg dibantu oleh relawan Macanputih Trawas
Hal yg menarik berikutnya adalah sejarah cikal bakal dusun Urung-Urung itu sendiri karena sampai sekarang belum diketahui siapa yg membabat alas dusun ini, tapi peninggalan/ prasasti nya sampai saat ini masih dirasakan manfaat yg sangat besar bagi masyarakat berupa gorong-gorong sepanjang 50 m yg berada di tebing curam yg berfungsi sebagai saluran air yg menghubung wilayah yg sangat sulit dijangkau krn terhalang tebing.
Gorong-gorong inilah yg kemudian disebut orang dulu dengan Urung-Urung menjadi nama dusun ini.
Mbah2 dusun Urung-Urung bukan hanya sakti secara keilmuan tapi juga mempunyai kemampuan secara teknologi pun sdh bisa mencari solusi atas masalah pengairan dari sumber air menuju persawahan dan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat di kala itu
Tidak berlebihan jika sy meminta kepada kepala desa dan sesepuh desa untuk mengurut silsilah siapa yg membabat alas dusun Urung-Urung atau desa Jatijejer ini
Semoga pada peringatan ruwah dusun yg di agendakan setiap 2 tahunan ini kedepan sdh diketahui nama Mbah dusun Urung-Urung
Harapan dan doa untuk masyarakat dusun Urung-Urung semoga selalu diberikan Rahmat, keselamatan dan barokah sebagaimana doa yg di tujukan pada leluhur yg sangat berjasa bagi masyarakat di masa kini


Komentar
Posting Komentar